Feature News
Karate merupakan salah satu cabang
olahraga beladiri yang cukup dikenal masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.
Olahraga yang berasal dari Jepang ini
cukup banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Seni beladiri ini identik
dengan kaum pria. Walaupun begitu, tak sedikit wanita yang menggeluti olahraga
keras ini.
Salah satu inspirasi karateka wanita yang memiliki
segudang prestasi membanggakan yaitu Puspita Triana Gustin. Selain berprestasi,
wanita kelahiran 4 Agustus 1988 ini juga mencuri perhatian karena mempunyai
paras yang cantik serta attitude yang baik. Puspita, sapaan akrabnya, dulunya
mempunyai mimpi untuk bisa keliling dunia gratis. Hal ini dapat Ia buktikan
dengan mengikuti berbagai kejuaraan dunia serta menorehkan prestasi yang luar
biasa.
Putri kedua
dari pasangan Hermansyah Monginsidi dan Deborah Sri Juwanti ini sejatinya
terlahir dari keluarga yang tidak asing dengan dunia karate. Ayahnya merupakan
pelatih karate yang telah menelurkan banyak juara di bidang karate. Kakaknya,
Puspa Aprilia merupakan juara nasional karate. Sedangkan adik laki-lakinya,
Imam Tauhid Ragananda juga merupakan atlet timnas yang telah menyabet banyak
medali di berbagai kejuaraan dunia karate.
Puspita, sapaan akrabnya, telah mengenal dunia karate
sejak berumur 6 tahun, saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak kecil
Puspita melihat ayahnya melatih karate, dan dari situlah awal mula Puspita
kecil berminat mengikuti karate. Walaupun ayahnya seorang pelatih karate,
tetapi pada saat itu ayahnya tidak memperbolehkan Puspita kecil untuk
menggeluti dunia karate. Hal itu dikarenakan, ayahnya berfikir olahraga karate
tidak selamanya bisa menjamin masa tua.
Oleh karena itu, Puspita diikutkan salah satu klub
atletik yang ada di Salatiga. “Dulu ikut latihan dua cabang olahraga, karate dan
atletik. Tapi rasanya
saya lebih senang dan menikmati berlatih karate. Akhirnya saya pun mantap memilih untuk mendalami
dunia karate. Dari situlah yang menjadikan saya termotivasi. Saya
ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi juara dunia karate.” ujar wanita yang kini berusia 29 tahun.
Setiap harinya, Puspita berlatih di Dojo Schreuder
Salatiga, dojo yang sekaligus rumah tempat Ia tinggal. Program latihan yang
diberikan ayahnya pun disamakan dengan atlet lainnya. Tidak ada yang menjadi
pembeda, walaupun Ia anak seorang pelatih. Puspita selalu rajin berlatih pagi
dan sore hari. Bahkan ketika mendekati pertandingan, latihannya seperti orang
minum obat, sehari tiga kali latihan.
Karena kurangnya kejuaraan karate, Puspita dan atlet
lainnya harus menunggu waktu yang cukup lama untuk mengikuti pertandingan.
Setelah 3 tahun berlatih, Puspita yang masih berusia 9 tahun akhirnya mengikuti
kejuaraan pertamanya, yaitu Kejurnas Wadokai di Cilodong. Prestasi Puspita
semakin naik, terbukti dengan berbagai gelar juara yang Ia raih, walaupun masih
di tingkat daerah.
Karirnya di bidang karate semakin menanjak setelah ia
menjuarai salah satu event bergengsi karate, yaitu Kejurnas Piala Mendagri.
Piala Mendagri tahun 2003 di Batam merupakan salah satu pertandingan yang
sangat berkesan baginya. “Piala Mendagri tahun 2003 memberikan kesan tersendiri
bagi saya. Karena saya
dapat meraih medali emas di kelas kadet serta mendapatkan gelar Best of the Best
untuk pertama kalinya. Dan dari situlah saya yang waktu itu masih berusia 15 tahun
ditarik untuk bergabung di tim nasional karate Indonesia.” ungkap
ibu satu anak ini.
Berbagai kejuaraan bergengsi nasional serta berbagai
kejuaraan dunia telah Ia ikuti. Setelah satu tahun mengikuti pelatnas di
Jakarta, di tahun 2005, Puspita mendapat berbagai prestasi dunia diantaranya,
medali perak kejuaraan AKF Macau, medali perak Islamic Solidarity Games, serta
medali perunggu Sea Games.
Perjalanan karir Puspita tidak selalu berjalan mulus.
Tahun 2006 saat persiapan Asean Games, Puspita mengalami cedera lutut. Pada
saat kegiatan try out di Gor Senayan, ligamen pada lutut Puspita robek. Puspita
masih tetap memaksakan untuk berlatih. Hal inilah yang menyebabkan ligamennya
putus ketika menjalani latihan di Jerman. Puspita pun diharuskan untuk menjalani
operasi di Jerman, 3 minggu sebelum keberangkatannya ke kejuaraan Asean Games.
“Itu
adalah kekecewaan terbesar
saya selama di dunia karate.
Saat itu saya dipastikan tidak dapat mengikuti kejuaraan bergengsi se-Asia. Saya sudah
berlatih mempersiapkan diri untuk Asean Games, tetapi apa boleh buat, Allah
berkehendak lain. Saya harus berbesar hati dan bersiap untuk menghadapi hari
esok” ucapnya.
Puspita tidak patah semangat. Berkat kegigihannya,
Puspita mampu mengalami masa-masa cederanya dan bangkit kembali. Hal ini
terbukti ketika Puspita kembali mengulang kesuksesannya dengan merebut medali
emas serta BOB pada Kejurnas Piala Mendagri tahun 2007. “Banyak
yang beranggapan karir saya akan turun karena cedera yang saya alami. Tetapi saya berusaha menepis jauh
anggapan tersebut dengan membuktikan melalui raihan prestasi.” ujar
karateka peraih
medali emas PON 2008.
Tahun 2009, Puspita kembali membuktikan prestasinya di
kancah internasional, hal ini terbukti dengan diraihnya perak POM Asean. Saat
persiapan Sea Games, Puspita kembali mengalami cedera pada tendon archiles.
Namun berkat semangat juangnya yang tinggi Ia kembali menyabet perunggu Sea
Games. Menjelang persiapan Pra PON 2011, cederanya semakin parah, putusnya
tendon archiles mengharuskan Puspita untuk rehat kurang lebih 6 bulan.
PON 2012, Puspita kembali dengan menyumbangkan medali
perak untuk Jawa Tengah. Barangkali
sudah tak terhitung berapa banyak medali dan piala yang didapatkan oleh Puspita.
Sebuah
pencapaian yang luar biasa, setelah mengalami berbagai tantangan tetapi Puspita
masih tetap bisa membuktikan bahwa dia yang terbaik. Kini, mimpi masa kecilnya untuk dapat berkeliling
dunia gratis telah ia wujudkan.
Puspita mengibaratkan kecintaannya terhadap karate seperti
orang yang sedang jatuh cinta. “Sudah seperti orang jatuh cinta, ga bisa diungkapkan dengan
kata-kata. Karate itu beladiri yang keren dan asik. Di karate
tidak bisa hanya mengandalkan otot, kecerdasan otak juga diperlukan. Di dalam karate juga
terdapat banyak filosofi-filosofi yang selalu saya terapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Seperti adanya sumpah karate dan dojo-kun.” tutur
wanita yang menggunakan hijab ini.
Di sisi lain, menurutnya sikap sportif dalam olahraga
karate dinilai masih sangat minim. Hal ini terlihat dari
banyaknya wasit yang memberikan
penilaiannya masih secara subjektif. Dalam berbagai pertandingan masih terdapat
banyak kecurangan. Menurut Puspita, hal tersebut yang menyebabkan kurang
maksimalnya prestasi atlet karate di Indonesia. Tetapi Puspita beranggapan
bahwa masih banyak sisi positif dari cabang olahraga karate yang dapat
disoroti.
Saat ini Puspita sedang bersiap untuk mengikuti Porprov
Jawa Tengah. Sedikit berbeda, Puspita yang dari kecil menggeluti karate, dalam
ajang Porprov nanti
Puspita beralih ke cabang olahraga tinju. “Karena
faktor usia yang tidak memenuhi syarat untuk mengikuti Porprov
karate, akhirnya bergeser ke cabor tinju. Ya, saya anggap sebagai obat rindu setelah sekian lama tidak memukul
orang.” ungakapnya sambil tertawa.
Kini Puspita dapat memetik buah kerja kerasnya selama
ini. Ia mendapatkan pekerjaan yang cukup
mapan di Disporapar Jawa Tengah. Prestasi Puspita tidak berhenti sampai disitu,
saat ini
Puspita juga menjadi pelatih atlet karate PPLP Salatiga dan pelatih di Dojo Schreuder Salatiga yang terbukti
dari sentuhannya ia dapat menelurkan atlet karate berprestasi. Ia berharap
prestasi atletnya nanti dapat melebihi prestasi Puspita.
“Kunci suksesnya selama ini ya mempunyai kepercayaan
diri yang tinggi. Saya selalu memiliki komitmen yang kuat terhadap apa yang
saya dipilih. Selain itu, kuncinya juga harus selalu senang dan menikmati
setiap prosesnya. Tak lupa, bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan
serta tidak cepat puas diri.” tuturnya.
Puspita telah menunjukkan bahwa kesuksesan tidak dapat
diraih secara instan. Proses yang panjang, baik susah maupun senang harus
dilalui dengan hati yang ikhlas dan selalu bersyukur agar tidak merasa cepat
puas diri. Puspita mampu mematahkan cibiran negatif orang lain yang
meremehkannya, dengan membuktikan segudang prestasi yang dapat diraihnya.
Opini
PJKR UNNES dengan Segudang Prestasi
Universitas Negeri Semarang atau
yang sering dikenal dengan sebutan UNNES adalah salah satu universitas negeri
yang berada di Gunungpati, Semarang. Terdapat total 8 fakultas didalamnya,
sedangkan ada total 63 jurusan di UNNES. Salah satu jurusan yang banyak
diminati di UNNES yaitu Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi.
Banyak prestasi yang telah
ditorehkan jurusan PJKR, baik di bidang akademik maupun bidang non akademik.
PJKR sendiri telah mendapatkan akreditas A. Prestasi yang didapatkan berasal
dari berbagai pihak, yaitu dari mahasiswa serta dosen.
Dalam bidang akademik, mahasiswa
PJKR menyumbangkan berbagai prestasi membanggakan. Seperti adanya Program
Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan setahun sekali untuk menjaring hasil
karya tulis mahasiswa PJKR. Selain itu, adanya kegiatan seleksi Mahasiswa
Berprestasi atau Mapres yang tak jarang mahasiswa PJKR menjadi juara ditingkat
fakultas.
Ada pula kegiatan Sport Student
Exchange (SSE) yang merupakan program pertukaran ke universitas dalam negeri
bahkan universitas ternama luar negeri, seperti Thailand, Vietnam dan
Filliphina. PJKR juga membuka kelas dengan dua Bahasa, yaitu Bahasa Indonesia
dan Bahasa Inggris, sehingga menjadikan mahasiswa PJKR terbiasa untuk berinteraksi
menggunakan Bahasa Inggris dan terbiasa berfikir out of the box.
Dalam bidang non akademik pun,
mahasiswa PJKR banyak menorehkan prestasi. Beberapa mahasiswa turut menyumbang
medali dari berbagai cabang olahraga baik di tingkat nasional bahkan internasional.
Selain prestasi dari mahasiswa, PJKR
UNNES juga memiliki dosen-dosen yang berprestasi. Mereka merupakan dosen
pilihan lulusan S2 dan S3 dari universitas ternama dalam negeri, serta banyak
pula yang merupakan alumni universitas ternama luar negeri. Dengan demikian,
para dosen PJKR dapat mentransferkan ilmu dengan baik kepada para mahasiswa.
Selain itu, fasilitas olahraga yang
lengkap sangat menunjang prestasi jurusan ini. Terdapat lapangan sepak bola
dengan lintasan lari yang sudah menggunakan karet, lapangan tenis indoor dan
outdoor, lapangan softball, kolam renang serta terdapat lab soegijono yang
dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas olahraga.
Mahasiswa berharap prestasi PJKR
dapat terus ditingkatkan baik di segi fasilitas maupun segi sumber daya
manusia. “Prestasi PJKR sudah sangat membanggakan dan semua pihak harus dapat
mempertahankan prestasi tersebut, bahkan seharusnya ditingkatkan. Mahasiswa
serta dosen harus bisa berfikir out of
the box dan melahirkan prestasi-prestasi baru.” ujar salah satu mahasiswa
PJKR.
Opini
Mengasah Kemampuan Menulis Melalui
Sport Jurnalism
Sport Jurnalism, Sport
Entrepreneurship dan Event Organizer merupakan mata kuliah pilihan yang
diwajibkan dari jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi. Dari tiga
mata kuliah tersebut, diharapkan mahasiswa tidak hanya memiliki ketrampilan di
bidang olahraga, tetapi dapat menjadikan olahraga sebagai pengembangan dari
berbagai bidang.
Berbicara mengenai jurnalistik
olahraga, tidak pernah terlepas dari kegiatan menulis berita yang berhubungan dengan
olahraga. Olahraga sendiri memiliki banyak celah untuk dapat dijadikan tulisan.
Banyak hal yang dapat dipelajari dan dapat dijadikan bahan untuk bertukar
pikiran ke masyarakat luas melalui olahraga.
Mata kuliah Sport Jurnalism
bertujuan agar mahasiswa dapat mengenal dasar-dasar jurnalistik olahraga. Mahasiswa
juga diberikan pemahaman mengenai teknik menulis berita serta mengidentifikasi
bagaimana bahasa jurnalistik dalam penulisan berita yang benar. Mahasiswa
dituntut untuk dapat mencari berita serta melakukan penulisan berita
berdasarkan 5W+1H.
Melalui Sport Jurnalism, mahasiswa
diberikan bekal untuk dapat menyampaikan informasi melalui berbagai macam
tulisan. Diantaranya yaitu, Straight News, Reportase, Feature dan Opini. Hal
ini menjadi modal utama yang dapat digunakan oleh mahasiswa untuk belajar
menjadi jurnalis olahraga
Jurnalistik olahraga bersifat
faktual, yang artinya, isi tulisan tersebut harus dapat dipertangunggjawabkan.
Oleh karena itu, mahasiswa harus mendapatkan sumber informasi terpercaya dari
satu atau bahkan lebih narasumber.
Saat ini, media cetak dan media
elektronik saling berlomba untuk menyajikan informasi. Pesatnya kemajuan dalam
media informasi memberikan kemajuan yang signifikan. Tak ingin ketinggalan
zaman, tulisan yang telah dibuat mahasiswa pun kini disampaikan melalui media
massa elektronik, yaitu di unggah melalui blog. Dengan begitu, mahasiswa
diberikan kemudahan agar tulisannya dapat dilihat oleh masyarakat luas.
Bagi beberapa mahasiswa, Sport
Jurnalism masih menjadi dunia yang asing. Tak jarang kesulitan-kesulitan muncul
ketika memperlajari Sport Jurnalism. Hal ini dikarenakan mahasiswa yang kurang
terbiasa dalam hal mengolah kata. Namun seiring berjalannya waktu, mahasiswa
sudah mulai jeli dan kreatif dalam membuat tulisan. Mahasiswa dapat menerapkan
apa yang sudah diberikan oleh dosen pengampu.
Dengan adanya mata kuliah Sport
Jurnalism diharapkan mahasiswa memiliki pengetahuan dan pengalaman baru terkait
jurnalistik olahraga. Mahasiswa diharapkan untuk lebih kreatif dalam
mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Sport Jurnalism juga dapat digunakan
sebagai bekal untuk melihat peluang usaha dan menyiapkan untuk aktivitas kerja
di masa yang akan datang.
Reportase News
Ratih
Erlyana Larasati, atlet wushu asal Sasana Schreuder Salatiga membuktikan bahwa
ialah ratu di kelas -60kg. Ratih meraih kemenangan setelah mengalahkan tiga
atlet lainnya dalam Kejurnas Wushu Piala Rektor Unnes, yang berlangsung pada
10-13 Mei di gedung Auditorium Unnes.
Pada
babak perempat final, Ratih bertemu dengan atlet asal Kendal. Selama 2 ronde,
Ratih menunjukkan kemampuan teknik wushu nya dengan cantik. Ratih terlihat
mendominasi dalam setiap ronde. Sedangkan musuhnya terlihat kuwalahan
mendapatkan serangan pukulan, tendangan dan bantingan dari Ratih.
Di
semifinal, Ratih dengan mudahnya mengalahkan atlet asal Semarang. Kurang dari
30 detik, Ratih membuat musuhnya menyerah dan tidak dapat melanjutkan pertandingan
setelah mendapat bantingan dari Ratih.
Dalam
pertandingan final, Ratih melawan Yuliana, atlet asal Salatiga. Dari ketiga
pertandingan, pertandingan final lah yang cukup berat bagi Ratih. Hal ini
dikarenakan Yuli adalah juniornya sendiri. Namun Ratih tetap menunjukkan
permainan apiknya, yang berbuah kemenangan pada ronde kedua.
Ratih
patut dijuluki ‘Ratu Wushu Jawa Tengah’ karena
ini adalah kali ketiga baginya mendapatkan medali emas di Kejuaraan Wushu Piala
Rektor Unnes. Selain itu, berbagai prestasi di kejuaraan nasional pun sering
kali diraih Ratih.
Selama
kurang lebih tiga bulan, Ratih melakukan persiapan menghadapi pertandingan ini.
“Persiapan kurang lebih tiga bulan dengan jadwal latian tiga kali dalam sehari.
Capek, tapi ini kan proses menuju kesuksesan jadi harus dilalui dengan hati
gembira.” ujar mahasiswi jurusan PKLO UNNES ini.
Dalam
waktu dekat, Ratih akan mengikuti Kejuaraan Wushu Dunia antar Mahasiswa di Macaw. Persiapan yang dilakukannya pun tak
tanggung-tanggung. Walaupun di bulan Ramadhan dan menjalani ibadah puasa, namun
Ratih tetap berlatih dua kali dalam sehari.
Kunci
keberhasilan Ratih dalam setiap pertandingan yaitu kemauan dalam memanfaatkan
setiap kesempatan. “Kuncinya ya kemauan, kehendak untuk bisa. Kalau ada
kesempatan tapi tidak ada kehendak ya sama saja. Saya juga selalu ingat
almarhum bapak saya yang ingin sekali anaknya jadi juara, itu yang selalu
memotivasi saya.” ujar wanita yang dari kecil menggeluti olahraga beladiri ini.
Straight News
Atlet
wushu asal Salatiga, Laksmana Pandu Pratama membuktikkan kehebatannya setelah
meraih kemenangan di Kejurnas Wushu Open Piala Rektor Unnes. Cueng Raidin
Naibaho, atlet asal Sumatra Utara harus menerima kekalahannya dan bergantian
mengakui kehebatan Pandu setelah menjalani pertandingan sengit selama 2 ronde.
Dalam
pertandingan final yang berlangsung pada Minggu, 13 Mei, keduanya menunjukkan
teknik bertarung yang apik. Ronde pertama terlihat barter pukulan dan tendangan
antara Pandu dan Cueng. Ronde kedua pun berlangsung seru. Pandu tampak
mendominasi pertandingan, dengan banyaknya bantingan yang dilakukannya. Pandu
berhasil memenangkan pertandingan setelah 2 ronde menjalani pertandingan yang
melelahkan.
Sebelumnya,
Pandu harus berbesar hati menerima kekalahan saat bertemu dengan Cueng pada
Kejurnas Wushu Piala Raja di Jogjakarta. Namun pada pertandingan ini, Pandu
membalas kekalahannya dengan menunjukkan permainan apiknya serta merebut juara
1.
Kesiapan Pandu menghadapi pertandingan ini sangatlah
matang. “Saya sangat optimis di pertandingan ini bisa meraih juara. Selain
mematangkan taktik dan strategi, kesiapan mental juga sudah saya siapkan,
dengan menguatkan lagi motivasi serta membuang jauh keraguan.” ujar mahasiswa
jurusan PJKR UNNES ini.



Komentar
Posting Komentar