Feature

PASANGAN
DARI KOTA SALATIGA
SABET GELAR DALAM
KEJUARAAN PEKAN OLAHRAGA PEREMPUAN (POP) BADMINTON
CHAMPIONSHIP 2018 se - JATENG
DIY YANG DISELENGGARAKAN OLEH
KEMENPORA MELALUI FATAYAT NAHDRATUL ULAMA
SEMARANG - Pekan Olahraga Perempuan muslimat
se-Jateng DIY yang diselenggarakan di GOR Marlupi yang berlangsung pada hari
Minggu sampai Selasa, 6-8 Mei 2018 yang di menangkan oleh pasangan Iustitia dan
Kingkin Lutfiani dari Salatiga dua set langsung dengan skor 21-17, 21-10. Kejuaran
yang diikuti oleh 12 pasangan ini diselenggaarakan dengan sangat meriah dan
bergengsi. Badminton di Semarang memang sangat banyak ragam dan variasinya.
Pekan Olahraga Perempuan (POP) merupakan
salah satu kejuaraan yang bergengsi pada tingkatannya. Fatayat NU merupakan
lembaga yang mengadakan kejuaraan badminton ini.
Para pemain
merupakan perwakilan dari daerah-daerah yang berada di Jateng-DIY. Kabupaten
Semarang, Kabupaten Magelang, Kota Salatiga, Kabupaten Sleman, Kota Semarang,
Rembang, Pati, Kendal, Kudus, Gunung Pati, Solo, dan Yogyakarta merupakan
peserta yang mengikuti kejuaraan ini. Tak luput dari perhatian adalah semua
pemain mengenakan jilbab dan berpakaian tertutup seperti layaknya berada di
negara arab dan mesir yang mayoritas mengenakan jilbab untuk berpakaian
sehari-hari.
Terdapat
keunikan di kejuaraan tersebut. Yaitu tidak ada penggolongan usia atau kelas.
Pesertanya memiliki usia yang beragam. Mulai dari usia 25th-55th.
Tak luput dari perhatian adalah Sri Riyani. Perwakilan dari kontingen Kabupaten
Sleman yang memiliki usia 55th. Ibu dengan 3 orang anak ini
merupakan seorang guru Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Pakem. Umur tidak
menghentikannya untuk tetap berlomba pada cabang bulutangkis. Walaupun pada
akhirnya tidak dapat meraih gelar juara, dan harus tersingkir di fase grup.
Apakah tidak ada perwakilan lain yang dapat menggatikan Sri riyani di kejuaraan
itu, menginggat umur dan harus meninggalkan kewajibannya mendidik di SMP N 4
Pakem?
“Umur saya
memang sudah tua mas, tapi tetap olahraga merupakan hobi dan pekerjaan saya. Nopo malih nak ono kejuaraan ngeten niki
mas. Saya sangat semangat dan ingin mengharumkan nama Kabupaten Sleman,
utamanya SMP tempat saya mengajar. Senajan
umurku ki wes ora enom meneh mas, wes kepala 5 punjule 5. Anakku telu, tapi
saya tetap bertanding karena memang sudah ditugaskan dari pimpinan saya,” jelas
wanita berkacamata ini.
Disisi lain
terdapat hal menarik dari segi usia pemain yang cenderung tergolong dalam
kategori sudah tua. Rata-rata usia pemain adalah diatas umur 40th .
Hanya beberapa pemain saja yang tergolong masih muda. Walaupun demikian, semua
pasangan yang bermain di kompetisi ini bertanding dengan penuh semangat dan
menjunjung tinggi sportifitas. Hal ini terbukti dengan tidak ada satu pemainpun
yang memaki satu sama lain.
Pembukaan
kejuaraan ini pun dihadiri dan dibuka langsung oleh Menpora Imam Nahrawi di GOR
Sahabat Semarang. Tidak hanya kejuaraan bulutangkis saja yang dipertandingkan,
melainkan banyak cabang olahraga yang dipertandingkan. Yaitu Grobak Sodor dan
Bola Voli. Secara khusus, Imam Nahrawi berpesan kepada ibu-ibu untuk bisa
melestarikan olahraga mulai dari keluarga.
“Dengan mengajak
dan membiasakan anak-anak berolahraga, secara tidak langsung, peran ini juga
untuk mencetak genersi sehat dan berkualitas,” katanya.
Terdapat
keganjilan yang ada di pertandingan ini. Fasilitas lapangan yang sangat minim
menimbulkan kesalahan pada wasit pada saat memimpin pertandingan. Pertandingan
seingkat Jateng DIY segarusnya sudah memiliki fasilitas yang memenuhi standart.
Tetapi papan skor masih menggunakan scoring
manual.dan tidak adanya tempat tersendiri bagi hakim servis.
“Memang untuk
masalah fasilitas kita terkendala pada tempatnya mas, GOR ini saya rasa
tergolong GOR yang cukup sempit dan relative terasa sangat panas dikarenakan
atap masih menggunakan bahan seng. Dan
saya rasa untuk masalah lapan insyaallah sudah
memenuhi standart Internasional,” jelas Johar Supratman selaku Referee pertandingan.
Sistem
pertandingan ini menggunakan sistem grup dengan pembagian dua grup yang
masing-masing berisi enam tim. Grup A terdiri dari Kabupaten Semarang,
Kabupaten Magelang, Kota Salatiga, Kabupaten Sleman, Kota Semarang, Rembang.
Sedangkan di grub terdiri dari kontingen Pati, Kendal, Kudus, Gunung Pati,
Solo, dan Yogyakarta.
Pertandingan
yang sangat seru di sajikan oleh grup B. Perebutan puncak kelasemen di grup B
mempertandingkan antara kontingen Gunung Pati yang diwakili oleh Ferra Swastika
(32) berpasangan dengan Sesaria Nisa Afifi (25) melawan pasangan dari kontingen
Yogyakarta yang diwakili oleh Dara Nugraheni (25) berpasangan dengan Nunik
Sumarsih (36). Pertandinga berjalan dengan sangat sengita dan memaksa
prtandingan dilanjutkan dengan rubber set.
Pasangan dari Gunung Pati dapat mencuri kemenangan dari pasangan Yogyakarta
dengan skor yang diperoleh masing-masing adalah 18-21, 24-22 dan 25-23.
“Mereka memang
lawan yang tangguh dan sangat kuat karena memang dulu saya dan Dara Nugraheni
merupaka teman satu jurusan pada saat masih kuliah di Unnes dan merupakan
pasangan di UKM bulutangkis Unnes. Jadi saya tahu kelemahan dan kelebihan dari
Dara. Dia sedikit lemah di bagian bola-bola backhand,
jadi saya hajar saja pada bagian backhandnya,” tegas Sesalia Nisa Afifi.
Sedangkan di
grup A sendiri tidak kalah hebohnya. Pertandingan yang paling menegangkan
adalah pertandinagan antara kontingen Kota Salatiga yang diwakili oleh Iustitia
(26) berpasangan dengan Kingkin Lutfiani (25) melawan kontingen dari Kota
Semarang yang diwakilioleh Retno Basuki (31) berpasangan dengan Endang
Rahmawati (36). Pasangan dari Salatiga masih terlalu kuat untuk dapat
dikalahkan oleh pasangan dari Kota Semarang. Pertandingan berakhir dengan skor
21-17, 21-14 untuk kemenangan pasangan dari kontingen Salatiga.
Kejuaraan
berlangsung relatif singkat karena hanya berlangsung selama tiga hari. Durasi
setiap harinya juga relatif singkat karena hanya terdapat 18 pertandinag pada
hari pertama, 12 pertandingan pada hari kedua, dan tiga pertandinganpada hari
ketiga yang masing-masing dibagi dalam dua lapangan. Hari pertama adalah fase
penyisihan grup. Hari kedua masih pada penyisihan grup dan hari terakhir adalah
fase semifinal dan final.
Kontingen dari
Kota Salatiga dan Kota Semarang merupakan wakil dari grup A untuk melangkah ke
babak semifinal. Sedangkan kontingen dari Gunung Pati dan Yogyakarta merupakan
wakil dari grup B untuk menjajaki babak semifinal.
Pada babak
semifinal, mempertemukan antara kontingen Kota Salatiga melawan kontingen dari
Yogyakarta. Kontingen dari Gunung Pati melawan kontingen dari Kota Semarang.
Sistem yang digunakan memang juara grup bertemu dengan runnerup grup lain. Yang memiliki peluang besar untuk lolos ke babakfinal
adaah pasangan dari kontingen dari Kota Salatiga dan Gunung Pati karena dari
segi umur masih tergolong muda dan mayoritas darimereka adalah mantan atlet
pada saat masih dibangku kuliah. Sesalia Nisa Afifi adalah jebolan dari Djarum Foundation yang notabenya adalah salah satu club terbaik bulutangkis di Indonesia.
Sedangkan Iustitia dan Kingkin Lutfiani adalah mantan atlet bulutangkis Unnes.
Benar apa yang
diprediksi. Kontingen dari Kota Salatiga berhasil menumbangkan kontingen dari
Yogyakarta dengan skor tekal 21-10, 21-9. Dan keimpresifan penampilan dari
Sesalia Nisa Afifi menghantarkan Gunung Pati melaju ke babak final dengan
membungkam perlawanan dari kontingen Kota Semarang dengan skor 21-16, 21-18.
“Nggih mbotensah ditanglet malih mas, kono
boyoke iseh kuat, lha kula? Umur wes 36, anak wes 2, boyok yo ngerti dewe nak
wes umur semene ki pie. Abot mas-mas. Tapi menurut saya pribadi, ini juga
kurang adil karena tidak ada pengelompokan umur yang jelas dan pasti. Mosok emak-emak koyo aku dilawanke cewek
sing iseh kinyis-kinyis ngono? Yo bodol dewe awakku,” Endang Rahmawati.
Babak Final
berjalan dengan sangat sengit dan alot. Kedua pasangan saling beradu skill dan tidak mau kalah. Sempat
terjadi protesdari pemain Gunung Pati kepada wasit karena hakim garis dianggap
salah dalam hal menilai shuttlecock dinyatakan
masuk atau keluar. Tetapi keputusan awal tetap berlaku dan wasit tetap pada
keputusannya.
Penampilan yang
apik dan kompak dari pasangan Iustitia dan Kingkin Lutfiani membawa pasangan
dari kontingen Salatiga ini menyandang gelar mahkota di Pekan Olahraga
Perempuan Badminton Championship 2018 PP Fatayat NU. Pasangan ini mengubur
harapan dari pasangan kontingen Gunung Pati dengan skor yang cukup tipis, yaitu
22-20, 21-19.
Terdapat hal
yang sangat menarik dari peserta finalis. Iustitia, Kingkin Lutfiani dan
Sesalia Nisa Afifi merupakan teman satu angkatan pada saat berkuliah di
Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan sering berlati bersama di UKM
Bulutangkis yang di adakan di Lab Soegiono Unnes.
“Alhamdulillah
ini gelar yang sudah saya nantikan lama mas. Pasangan saya juga sudah berlatih
keras untuk mempersiapkan kejuaraan ini. Alhamdulillah Allah meridhai dan mengijabah doa saya. Tapi Sesalia memang sangat bagus dalam segala
posisi. Dia sangat bagus bola srobotan pada saat posisi dia di depan dan
memiliki smash yang mematikan jika
dia berada di belakang. Ya gimana lagi ya mas, dia kan mantan atlet Djarum jadi
ya wajar saja sih kalau dia sangat bagus
dan meninjol di bidang Bulutangkis. Dan tahu nggak mas? Dulu tuh saya, Sesalia
dan Kingkin satu angkatan di Unnes cuma
beda rombel saja” Ucap Iustitia.
Penutupan dan
penyerahan penghargaan diadakan di hotel
Pandanaran pada pukul 13.00 yang akan ditutup sendiri oleh kemenpora, Imam
Nahrawi, tetapi pada saat penutupan, kemenpora tidak dapat hadir kalena suatu
halangan. Akhirnya kejuaraan POP se-Jateng DIY resmi ditutup pada hari Selasa
pada jam 14.00.
Straigh News
Setelah
Penyuluhan Dari Dekan, Membuat Pembeludakan Pendaftar PPL Antar Bangsa
Semarang
– Pendaftar PPL antar bangsa dari kelas bilingual
jurusan PJKR Unnes meningkat tajam setelah adanya penyuluhan dari Prof. Dr.
Tandiyo Rahayu, M.Pd. tentang kelebihan dan kekurangan PPL antar bangsa di
Singapore. Penyuluhan dilakukan di Lab. Soegiono FIK Unnes, Sekaran, Gunung
Pati, Semarang, Selasa (22/052018) pukul 13.45 WIB.
“Saya
sangat berminat mengikuti PPL antar bangsa karena kesempatan ini hanya datang
satu kali selama saya kuliah di Unnes,” ujar Iqbal Syarifuddin Mahbubi, salah
satu pendaftar yang diwawancarai setelah penyuluhan berakhir.
Iqbal
mengatakan, awalnya tidak tertarik dengan kegiatan ini. Namun setelah mendengar
penjelasan yang gamblang dari Dekan menimbulkan motivasi dan pemikiran
tersendiri.
Semula
jumlah pendaftar hanya 2-4 orang bertambah menjadi 14 orang dari total 28
mahasiswa. Mahasiswa harus bersaing untuk memperebutkan 6 kursi untuk laki-laki
dan 6 kursi untuk perempuan.
Opini
Kurangnya
Partisipasi Aktif Mahasiswa Jurusan PJKR Unnes Dalam Mengikuti Pekuliahan Jurnalistik
Partisipasi
mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan jurnalistik yang kurang aktif dalam
mengikuti perkuliahan menjadikan suasana di kelas yang kurang kondusif,
cenderung sangat pasif dan menjadikan pengetahuan yang didapat pun tegolong
kurang.
Jurnalistik
adalah Jurnalistik adalah aktivitas mencari mengolah,menuis, dan
menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Di jurusan PJKR
Unnes sendiri diajarkan perkuliahan jurnalistik. Tidak semua jurusan PJKR di
Indonesia memiliki mata kuliah jurnalistik.
Tetapi
keunggulan ini tidak diimbangi oleh antusias dari mahasiswa PJKR Unnes.
Perkuliahan cenderung pasif dan menjadikan pengetahuan yang di dapat kurang.
Ini dapat dilihat dari pada saat perkuliahan. Dosen terus menerus menerangkan
dan pada saat dosen bertanya pada mahasiswa, hampir tidak ada yang menjawab
pertanyaan dari dosen.
Ini
dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Yang pertama adalah dilihat dari
segi dosen sedniri yang menjelaskan materi dengan kurang menarik, atau yang
kedua adalah memang mahasiswa sendiri yang kurang tertarikpada mata kuliah
jurnalistik. Tidak dapat dipingkiri memang mahasiswa PJKR lebih antusias jika perkuliahan berada
di luar kelas atau lebih suka bergerak dari pada berfikir.
Tetapi
pada dasarnya PJKR Unnes memiliki tujuan sendiri memiliki mata kuliah
jurnalistik, yaitu mempersiapkan mahasiswa tidak hanya menjadi seorang guru,
tetapi tetap memiliki skill di luar
guru. Tujuan yang sangat bagus dari jurusan PJKR Unnes.
Sebaiknya
dari pihak jurusan sendiri lebih mensosialisasikan tentang pentingnya skill diluar keguruan karena setelah
lulus dari PJKR Unnes belum tentu mahasiswa menjadi seorang guru. Dan mahasiswa
sendiri harus bisa mengubah pola pikir untuk membuka wawasan untuk meningkatkan
skill di luar keguruan.
Reportase
Kerusuhan
Antar Pemain Futsal
Semarang
– Kerusuhan antar pemain futsal FMIPA dan FBS kembali terjadi pada malam hari,
pukul 22.15 WIB, bertempat di Futsal Buana, Banaran, Gunung Pati, Semarang
(22/5).
FMIPA
dan FBS merupakan salah satu fakultas di Universitas Negeri Semarang. Tidak
pernah terdapat catatan buruk antara kedua fakultas tersebut. Namum baru-baru
ini dikabarkan kedua fakultas terlibat baku hantam. Entah siapa yang mulai,
kedua team tidak ada yang mau disalahkan.
“Pertama
yang mulai adalah dari pihak sana mas. Kita udah santai mainnya, tapi mereka nyelampar. Ya mau gamau kita harus main
sama seperti mereka mas, daripada kita remuk
sendiri, mending remuk
bareng-bareng,” sanggah Syafarudin, salah satu pemain FMIPA.
Pukul
22.00 pertandingan sudah mulai memanas dan sudah mulai saling menjatuhkan satu
sama yang lain. Tidak bisa dihindari benturan-benturan yang berbahaya. Dan
puncaknya pada pukul 22.15.
“Awalnya
mereka yang mulai mas masak kaki
temen kita diinjak dengan sengaja. Enggak
satu kali dua kali doang mas sudah
berulang kali. Ya sudah kalau mereka bermain dengan cara seperti itu kita juga
bisa,” kata Bastian, salah satu pmain FBS.
Penjaga
dan pemilik Futsal Buana tidak bisa menahan amarah para pemain karena memang
emosi yang sudah memuncak dan jumlah pemain yang cukup banyak. Lima belas
pemain dari FMIPA dan tuhuh belas pemain dari FBS beradu hantam di tengah
lapangan.
“Semula
berjalan lancar-lancar saja, sampai pada saat seorang pemain FMIPA dijatuhkan
oleh seorang pemain pemain dari FBS dengan cara yang kasar. Semua pemain FMIPA
langsung memasuki lapangan dan mengejar pemain yang menjatuhkan pemainnya. Kami
sebagai pihak pemilik tempat persewaan tentu saja sangat merasa keberatan dan
dirugikan dengan keadaan ini,” ujar pak Eko, pemilik Buana Futsal Banaran.
Tidak
hanya di dalam lapangan terjadi baku hantam. Setelah mereka berdamai, terjadi
kerusuhan lagi di luar gedung. Masalahnya mendasar, salah satu pemain FMIPA
masih tidak terima dengan tindakan salah satu pemain FBS.
Komentar
Posting Komentar