Mini News Papper Sidqi Fatkhureza


Feature

ganda-putri-cantik-berhijab-ramaikan-kejuaraan-dunia-bwf-2015-4271b0.jpg
PASANGAN  DARI  KOTA  SALATIGA  SABET  GELAR  DALAM  KEJUARAAN  PEKAN  OLAHRAGA PEREMPUAN  (POP)  BADMINTON  CHAMPIONSHIP  2018   se - JATENG  DIY  YANG DISELENGGARAKAN  OLEH  KEMENPORA MELALUI  FATAYAT  NAHDRATUL ULAMA

SEMARANG - Pekan Olahraga Perempuan muslimat se-Jateng DIY yang diselenggarakan di GOR Marlupi yang berlangsung pada hari Minggu sampai Selasa, 6-8 Mei 2018 yang di menangkan oleh pasangan Iustitia dan Kingkin Lutfiani dari Salatiga dua set langsung dengan skor 21-17, 21-10. Kejuaran yang diikuti oleh 12 pasangan ini diselenggaarakan dengan sangat meriah dan bergengsi. Badminton di Semarang memang sangat banyak ragam dan variasinya. Pekan Olahraga Perempuan (POP)  merupakan salah satu kejuaraan yang bergengsi pada tingkatannya. Fatayat NU merupakan lembaga yang mengadakan kejuaraan badminton ini.
Para pemain merupakan perwakilan dari daerah-daerah yang berada di Jateng-DIY. Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, Kota Salatiga, Kabupaten Sleman, Kota Semarang, Rembang, Pati, Kendal, Kudus, Gunung Pati, Solo, dan Yogyakarta merupakan peserta yang mengikuti kejuaraan ini. Tak luput dari perhatian adalah semua pemain mengenakan jilbab dan berpakaian tertutup seperti layaknya berada di negara arab dan mesir yang mayoritas mengenakan jilbab untuk berpakaian sehari-hari.
Terdapat keunikan di kejuaraan tersebut. Yaitu tidak ada penggolongan usia atau kelas. Pesertanya memiliki usia yang beragam. Mulai dari usia 25th-55th. Tak luput dari perhatian adalah Sri Riyani. Perwakilan dari kontingen Kabupaten Sleman yang memiliki usia 55th. Ibu dengan 3 orang anak ini merupakan seorang guru Pendidikan Jasmani di SMP N 4 Pakem. Umur tidak menghentikannya untuk tetap berlomba pada cabang bulutangkis. Walaupun pada akhirnya tidak dapat meraih gelar juara, dan harus tersingkir di fase grup. Apakah tidak ada perwakilan lain yang dapat menggatikan Sri riyani di kejuaraan itu, menginggat umur dan harus meninggalkan kewajibannya mendidik di SMP N 4 Pakem?
“Umur saya memang sudah tua mas, tapi tetap olahraga merupakan hobi dan pekerjaan saya. Nopo malih nak ono kejuaraan ngeten niki mas. Saya sangat semangat dan ingin mengharumkan nama Kabupaten Sleman, utamanya SMP tempat saya mengajar. Senajan umurku ki wes ora enom meneh mas, wes kepala 5 punjule 5. Anakku telu, tapi saya tetap bertanding karena memang sudah ditugaskan dari pimpinan saya,” jelas wanita berkacamata ini.
Disisi lain terdapat hal menarik dari segi usia pemain yang cenderung tergolong dalam kategori sudah tua. Rata-rata usia pemain adalah diatas umur 40th . Hanya beberapa pemain saja yang tergolong masih muda. Walaupun demikian, semua pasangan yang bermain di kompetisi ini bertanding dengan penuh semangat dan menjunjung tinggi sportifitas. Hal ini terbukti dengan tidak ada satu pemainpun yang memaki satu sama lain.
Pembukaan kejuaraan ini pun dihadiri dan dibuka langsung oleh Menpora Imam Nahrawi di GOR Sahabat Semarang. Tidak hanya kejuaraan bulutangkis saja yang dipertandingkan, melainkan banyak cabang olahraga yang dipertandingkan. Yaitu Grobak Sodor dan Bola Voli. Secara khusus, Imam Nahrawi berpesan kepada ibu-ibu untuk bisa melestarikan olahraga mulai dari keluarga.
“Dengan mengajak dan membiasakan anak-anak berolahraga, secara tidak langsung, peran ini juga untuk mencetak genersi sehat dan berkualitas,” katanya.
Terdapat keganjilan yang ada di pertandingan ini. Fasilitas lapangan yang sangat minim menimbulkan kesalahan pada wasit pada saat memimpin pertandingan. Pertandingan seingkat Jateng DIY segarusnya sudah memiliki fasilitas yang memenuhi standart. Tetapi papan skor masih menggunakan scoring manual.dan tidak adanya tempat tersendiri bagi hakim servis.
“Memang untuk masalah fasilitas kita terkendala pada tempatnya mas, GOR ini saya rasa tergolong GOR yang cukup sempit dan relative terasa sangat panas dikarenakan atap masih menggunakan bahan seng. Dan saya rasa untuk masalah lapan insyaallah sudah memenuhi standart Internasional,” jelas Johar Supratman selaku Referee pertandingan.
Sistem pertandingan ini menggunakan sistem grup dengan pembagian dua grup yang masing-masing berisi enam tim. Grup A terdiri dari Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, Kota Salatiga, Kabupaten Sleman, Kota Semarang, Rembang. Sedangkan di grub terdiri dari kontingen Pati, Kendal, Kudus, Gunung Pati, Solo, dan Yogyakarta.
Pertandingan yang sangat seru di sajikan oleh grup B. Perebutan puncak kelasemen di grup B mempertandingkan antara kontingen Gunung Pati yang diwakili oleh Ferra Swastika (32) berpasangan dengan Sesaria Nisa Afifi (25) melawan pasangan dari kontingen Yogyakarta yang diwakili oleh Dara Nugraheni (25) berpasangan dengan Nunik Sumarsih (36). Pertandinga berjalan dengan sangat sengita dan memaksa prtandingan dilanjutkan dengan rubber set. Pasangan dari Gunung Pati dapat mencuri kemenangan dari pasangan Yogyakarta dengan skor yang diperoleh masing-masing adalah 18-21, 24-22 dan 25-23.
“Mereka memang lawan yang tangguh dan sangat kuat karena memang dulu saya dan Dara Nugraheni merupaka teman satu jurusan pada saat masih kuliah di Unnes dan merupakan pasangan di UKM bulutangkis Unnes. Jadi saya tahu kelemahan dan kelebihan dari Dara. Dia sedikit lemah di bagian bola-bola backhand, jadi saya hajar saja pada bagian backhandnya,” tegas Sesalia Nisa Afifi.
Sedangkan di grup A sendiri tidak kalah hebohnya. Pertandingan yang paling menegangkan adalah pertandinagan antara kontingen Kota Salatiga yang diwakili oleh Iustitia (26) berpasangan dengan Kingkin Lutfiani (25) melawan kontingen dari Kota Semarang yang diwakilioleh Retno Basuki (31) berpasangan dengan Endang Rahmawati (36). Pasangan dari Salatiga masih terlalu kuat untuk dapat dikalahkan oleh pasangan dari Kota Semarang. Pertandingan berakhir dengan skor 21-17, 21-14 untuk kemenangan pasangan dari kontingen Salatiga.
Kejuaraan berlangsung relatif singkat karena hanya berlangsung selama tiga hari. Durasi setiap harinya juga relatif singkat karena hanya terdapat 18 pertandinag pada hari pertama, 12 pertandingan pada hari kedua, dan tiga pertandinganpada hari ketiga yang masing-masing dibagi dalam dua lapangan. Hari pertama adalah fase penyisihan grup. Hari kedua masih pada penyisihan grup dan hari terakhir adalah fase semifinal dan final.
Kontingen dari Kota Salatiga dan Kota Semarang merupakan wakil dari grup A untuk melangkah ke babak semifinal. Sedangkan kontingen dari Gunung Pati dan Yogyakarta merupakan wakil dari grup B untuk menjajaki babak semifinal.
Pada babak semifinal, mempertemukan antara kontingen Kota Salatiga melawan kontingen dari Yogyakarta. Kontingen dari Gunung Pati melawan kontingen dari Kota Semarang. Sistem yang digunakan memang juara grup bertemu dengan runnerup grup lain. Yang memiliki peluang besar untuk lolos ke babakfinal adaah pasangan dari kontingen dari Kota Salatiga dan Gunung Pati karena dari segi umur masih tergolong muda dan mayoritas darimereka adalah mantan atlet pada saat masih dibangku kuliah. Sesalia Nisa Afifi adalah jebolan dari Djarum Foundation yang notabenya adalah salah satu club terbaik bulutangkis di Indonesia. Sedangkan Iustitia dan Kingkin Lutfiani adalah mantan atlet bulutangkis Unnes.
Benar apa yang diprediksi. Kontingen dari Kota Salatiga berhasil menumbangkan kontingen dari Yogyakarta dengan skor tekal 21-10, 21-9. Dan keimpresifan penampilan dari Sesalia Nisa Afifi menghantarkan Gunung Pati melaju ke babak final dengan membungkam perlawanan dari kontingen Kota Semarang dengan skor 21-16,  21-18.
Nggih mbotensah ditanglet malih mas, kono boyoke iseh kuat, lha kula? Umur wes 36, anak wes 2, boyok yo ngerti dewe nak wes umur semene ki pie. Abot mas-mas. Tapi menurut saya pribadi, ini juga kurang adil karena tidak ada pengelompokan umur yang jelas dan pasti. Mosok emak-emak koyo aku dilawanke cewek sing iseh kinyis-kinyis ngono? Yo bodol dewe awakku,” Endang Rahmawati.
Babak Final berjalan dengan sangat sengit dan alot. Kedua pasangan saling beradu skill dan tidak mau kalah. Sempat terjadi protesdari pemain Gunung Pati kepada wasit karena hakim garis dianggap salah dalam hal menilai shuttlecock dinyatakan masuk atau keluar. Tetapi keputusan awal tetap berlaku dan wasit tetap pada keputusannya.
Penampilan yang apik dan kompak dari pasangan Iustitia dan Kingkin Lutfiani membawa pasangan dari kontingen Salatiga ini menyandang gelar mahkota di Pekan Olahraga Perempuan Badminton Championship 2018 PP Fatayat NU. Pasangan ini mengubur harapan dari pasangan kontingen Gunung Pati dengan skor yang cukup tipis, yaitu 22-20, 21-19.
Terdapat hal yang sangat menarik dari peserta finalis. Iustitia, Kingkin Lutfiani dan Sesalia Nisa Afifi merupakan teman satu angkatan pada saat berkuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan sering berlati bersama di UKM Bulutangkis yang di adakan di Lab Soegiono Unnes.
“Alhamdulillah ini gelar yang sudah saya nantikan lama mas. Pasangan saya juga sudah berlatih keras untuk mempersiapkan kejuaraan ini. Alhamdulillah Allah meridhai dan mengijabah doa saya. Tapi Sesalia memang sangat bagus dalam segala posisi. Dia sangat bagus bola srobotan pada saat posisi dia di depan dan memiliki smash yang mematikan jika dia berada di belakang. Ya gimana lagi ya mas, dia kan mantan atlet Djarum jadi ya wajar saja sih  kalau dia sangat bagus dan meninjol di bidang Bulutangkis. Dan tahu nggak mas? Dulu tuh saya, Sesalia dan Kingkin  satu angkatan di Unnes cuma beda rombel saja” Ucap Iustitia.
Penutupan dan penyerahan  penghargaan diadakan di hotel Pandanaran pada pukul 13.00 yang akan ditutup sendiri oleh kemenpora, Imam Nahrawi, tetapi pada saat penutupan, kemenpora tidak dapat hadir kalena suatu halangan. Akhirnya kejuaraan POP se-Jateng DIY resmi ditutup pada hari Selasa pada jam 14.00.



Straigh News
Setelah Penyuluhan Dari Dekan, Membuat Pembeludakan Pendaftar PPL Antar Bangsa

Semarang – Pendaftar PPL antar bangsa dari kelas bilingual jurusan PJKR Unnes meningkat tajam setelah adanya penyuluhan dari Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd. tentang kelebihan dan kekurangan PPL antar bangsa di Singapore. Penyuluhan dilakukan di Lab. Soegiono FIK Unnes, Sekaran, Gunung Pati, Semarang, Selasa (22/052018) pukul 13.45 WIB.
“Saya sangat berminat mengikuti PPL antar bangsa karena kesempatan ini hanya datang satu kali selama saya kuliah di Unnes,” ujar Iqbal Syarifuddin Mahbubi, salah satu pendaftar yang diwawancarai setelah penyuluhan berakhir.
Iqbal mengatakan, awalnya tidak tertarik dengan kegiatan ini. Namun setelah mendengar penjelasan yang gamblang dari Dekan menimbulkan motivasi dan pemikiran tersendiri.
Semula jumlah pendaftar hanya 2-4 orang bertambah menjadi 14 orang dari total 28 mahasiswa. Mahasiswa harus bersaing untuk memperebutkan 6 kursi untuk laki-laki dan 6 kursi untuk perempuan.


Opini
Kurangnya Partisipasi Aktif Mahasiswa Jurusan PJKR Unnes Dalam Mengikuti Pekuliahan Jurnalistik

Partisipasi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan jurnalistik yang kurang aktif dalam mengikuti perkuliahan menjadikan suasana di kelas yang kurang kondusif, cenderung sangat pasif dan menjadikan pengetahuan yang didapat pun tegolong kurang.
Jurnalistik adalah Jurnalistik adalah aktivitas mencari mengolah,menuis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Di jurusan PJKR Unnes sendiri diajarkan perkuliahan jurnalistik. Tidak semua jurusan PJKR di Indonesia memiliki mata kuliah jurnalistik.
Tetapi keunggulan ini tidak diimbangi oleh antusias dari mahasiswa PJKR Unnes. Perkuliahan cenderung pasif dan menjadikan pengetahuan yang di dapat kurang. Ini dapat dilihat dari pada saat perkuliahan. Dosen terus menerus menerangkan dan pada saat dosen bertanya pada mahasiswa, hampir tidak ada yang menjawab pertanyaan dari dosen.
Ini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Yang pertama adalah dilihat dari segi dosen sedniri yang menjelaskan materi dengan kurang menarik, atau yang kedua adalah memang mahasiswa sendiri yang kurang tertarikpada mata kuliah jurnalistik. Tidak dapat dipingkiri memang mahasiswa  PJKR lebih antusias jika perkuliahan berada di luar kelas atau lebih suka bergerak dari pada berfikir.
Tetapi pada dasarnya PJKR Unnes memiliki tujuan sendiri memiliki mata kuliah jurnalistik, yaitu mempersiapkan mahasiswa tidak hanya menjadi seorang guru, tetapi tetap memiliki skill di luar guru. Tujuan yang sangat bagus dari jurusan PJKR Unnes.
Sebaiknya dari pihak jurusan sendiri lebih mensosialisasikan tentang pentingnya skill diluar keguruan karena setelah lulus dari PJKR Unnes belum tentu mahasiswa menjadi seorang guru. Dan mahasiswa sendiri harus bisa mengubah pola pikir untuk membuka wawasan untuk meningkatkan skill di luar keguruan.




Reportase
Kerusuhan Antar Pemain Futsal

Semarang – Kerusuhan antar pemain futsal FMIPA dan FBS kembali terjadi pada malam hari, pukul 22.15 WIB, bertempat di Futsal Buana, Banaran, Gunung Pati, Semarang (22/5).
FMIPA dan FBS merupakan salah satu fakultas di Universitas Negeri Semarang. Tidak pernah terdapat catatan buruk antara kedua fakultas tersebut. Namum baru-baru ini dikabarkan kedua fakultas terlibat baku hantam. Entah siapa yang mulai, kedua team tidak ada yang mau disalahkan.
“Pertama yang mulai adalah dari pihak sana mas. Kita udah santai mainnya, tapi mereka nyelampar. Ya mau gamau kita harus main sama seperti mereka mas, daripada kita remuk sendiri, mending remuk bareng-bareng,” sanggah Syafarudin, salah satu pemain FMIPA.
Pukul 22.00 pertandingan sudah mulai memanas dan sudah mulai saling menjatuhkan satu sama yang lain. Tidak bisa dihindari benturan-benturan yang berbahaya. Dan puncaknya pada pukul 22.15.
“Awalnya mereka yang mulai mas masak kaki temen kita diinjak dengan sengaja. Enggak satu kali dua kali doang mas sudah berulang kali. Ya sudah kalau mereka bermain dengan cara seperti itu kita juga bisa,” kata Bastian, salah satu pmain FBS.
Penjaga dan pemilik Futsal Buana tidak bisa menahan amarah para pemain karena memang emosi yang sudah memuncak dan jumlah pemain yang cukup banyak. Lima belas pemain dari FMIPA dan tuhuh belas pemain dari FBS beradu hantam di tengah lapangan.
“Semula berjalan lancar-lancar saja, sampai pada saat seorang pemain FMIPA dijatuhkan oleh seorang pemain pemain dari FBS dengan cara yang kasar. Semua pemain FMIPA langsung memasuki lapangan dan mengejar pemain yang menjatuhkan pemainnya. Kami sebagai pihak pemilik tempat persewaan tentu saja sangat merasa keberatan dan dirugikan dengan keadaan ini,” ujar pak Eko, pemilik Buana Futsal Banaran.
Tidak hanya di dalam lapangan terjadi baku hantam. Setelah mereka berdamai, terjadi kerusuhan lagi di luar gedung. Masalahnya mendasar, salah satu pemain FMIPA masih tidak terima dengan tindakan salah satu pemain FBS.

Komentar