Inanda Rizka Nandika
6101415051
BC'15
Feature News
Minggu
terakhir bulan April kemarin tepatnya tanggal 23 April 2018 , saya dan
teman-teman sibuk mempersiapkan keperluan untuk melaksanakan Field Work /KKL.
Kami
sampai di Bandara Ahmad Yani Semarang pukul 13.40. Kemudian kami bergegas
menuju ke tempat check-in untuk mencetak boarding pass dan menyerahkan koper ke
petugas bandara untuk dimasukkan ke bagasi pesawat. Setelah kami menuju tempat imigrasi. Setelah paspor dan boarding pass kami sudah
di check oleh petugas imigrasi, kami menunggu di ruang tunggu sampai
penerbangan pesawat tiba.
Ini
adalah pertama kalinya saya naik pesawat, yang saya rasakan sedikit takut dan
deg-degan. Hal yang paling saya takuti saat pesawat akan take-off. Baru
sebentar pesawat take-off, cuaca sedang ada badai, rasanya saya begitu takut
karena ini kali pertama untuk saya. Tetapi, akhirnya perjalanan lancar kembali
dan saya kembali tenang.
Setibanya
di Changi Airport, seketika kami semua dibuat terpana dengan keadaan bandara
ini. Melihat betapa megahnya bandara ini (bersih, nyaman, dan tertata rapi). Setibanya
di hotel semuanya dengan antusias ingin segera ke kamar masing-masing, karena
perjalanannya membuat kami begitu lelah dan ingin segera beristirahat.
Kegiatan
di hari pertama, kami didampingi oleh Pak Tandiyo dan Bu Heny untuk kegiatan di ITE College East. Saya dan teman
teman kembali dibuat terpana melihat ITE College East. Bangunannya megah dan rapi.
Tidak ada satu siswa pun yang membuang sampah sembarangan, mereka terbiasa berjalan
cepat dan sangat disiplin. Ruang perpustakaan yang hening membuat suasana
semakin nyaman untuk membaca buku. Disini juga terdapat tempat fitnes yang
fasilitasnya lengkap, ruang kelas yang kondusif dan semua yang ada di ITE
begitu ramah. Di ITE ini sama halnya SMK di Indonesia, hanya saja SMK mereka
harus ditempuh selama 4 tahun.
Kegiatan di hari kedua, kami bangun pagi untuk
traveling keliling Singapore. Karena makanan disini harganya sangat mahal, kami
hanya sarapan dengan roti seadanya. Sebelum ke destinasi pertama, kami menuju
ke tempat pemberhentian MRT. Disana kita akan menemui pejalan kaki
dimana-mana,dan mereka berjalan begitu cepat. Best Practice yang kita temui disana selain budaya jalan kaki
adalah dihormatinya hak pejalan kaki, for
example, saat ada pejalan kaki yang menyeberang maka pengemudi mobil/motor
dengan sabar akan menunggu.
Destinasi
kami yang pertama Marina Bay, disana kami disuguhi pemandangan yang sangat
memukau mata. Tidak lupa kami mengabadikan moment travelling kami disana.
Selanjutnya, Universal Studio Singapore, tapi sayangnya kami hanya berfoto di
depannya saja. Karena disana cuaca sangatlah panas dan kami
juga sudah lelah, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan
melanjutkan travelling kami pada sore hari. Sore harinya, kami ke Merlion Park
dan berencana akan menuju ke Garden Bay. Akan tetapi kita tidak jadi
melanjutkan ke Garden Bay karena salah satu teman kami sakit karena terlalu
lelah. Akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan kami esok hari.
Kegiatan
di hari ketiga, kami menuju destinasi kami yang tertunda yaitu ke Garden Bay. You
can take a picture anywhere in that place! That’s amazing and beautiful place!
Begitu indahnya, banyak spot untuk berfoto yang bisa kita abadikan. Udara
disini sangat sejuk walaupun cuaca sedang panas. Karena sudah kelelahan
berkeliling Garden Bay, kami melanjutkan perjalanan ke Bugis Street untuk
berburu oleh-oleh. Yang membekas di ingatan adalah sikap warga disini dengan budaya antrinya,budaya disiplin, kebersihan
dan ketaatannya kepada tata tertib yang membuat saya dan teman-teman saya
terkagum-kagum. Dengan Seribu Larangannya, Singapore membuktikan bahwa larangan
itu dibuat tidak untuk mengkekang,akan tetapi agar semuanya berjalan rapi,
indah, aman dan damai.
Kegiatan
di hari terakhir, pada pukul 07.00 waktu Singapore kami sudah check-out dari hotel dan segera menuju
ke Changi Airport untuk kembali ke Indonesia. Saat akan terbang ke Indonesia, ada
nama teman saya yang berbeda dengan passpor, jenis kelamin saya yang salah
tulis dan harus ditulis lagi dengan benar pada sistem penerbangan,dan ini
membuat saya sedikit panik karena baru pertama mengalami hal ini.
Waktu
sudah menunjukan pukul 09.50 teman-teman saya merasa sangat panik dan takut
jika gagal terbang karena nama dan jenis kelamin ada yang salah. Jam juga sudah
menunjukkan pukul 10.10 saat saya dan teman-teman selesai memasukkan koper ke
dalam bagasi, sedangkan pesawat akan take-off pukul 10.20. Akan tetapi masalah
akhirnya selesai tepat pada waktunya, dan kami semua bisa kembali ke Indonesia
dengan lancar.
Perjalanan kali ini sangat berkesan bagi saya khususnya, ini kali pertama saya
ke luar negeri dan pertama kalinya juga saya naik pesawat. Tapi perjalanan ini
memberi saya wawasan baru dan pengalaman yang tidak terlupakan. Semoga bisa
kembali menjelajah Negeri Seribu satu Larangan lagi.

Komentar
Posting Komentar