Mini News Papper Desta

PJKR Semakin Maju, Mahasiswa Tak Mau Tau

Universitas Negeri Semarang merupakan perguruan tinggi negeri terbaik di Semarang. Banyak orang mengenal UNNES adalah IKIP NEGERI. Ya, memang dulunya UNNES dinamakan IKIP NEGERI. Kini Unnes mempunyai julukan sebagai kampus konservasi. Unnes mempunyai 8 fakultas yang semuanya sudah di lengkapi fasilitas dan tentunya sangat memadai. Bahkan di setiap tempat dan setiap sudut sudah dilengkapi CCTV.
Fakultas Ilmu Keolahragan mempunyai jurusan PJKR (Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi) merupakan konsentrasi yang nantinya mahasiswnya akan di tempatkan di sekolah sebagai seorang calon pendidik. Di PJKR banyak fasilitas yang bisa kita gunakan dengan maksimal. Salah satu contohnya yaitu kolam renang. Banyak mahasiswa yang tidak memanfaatkan fasilitas ini.
Mereka malah memilih berenang di luar daripada di FIK sendiri. Alasan mereka beragam, ada yang katanya bayarnya mahal, ada yang bilang mahasiswa seharusnya gratis, ada juga yang bilang airnya terlalu keruh. Ya memang, seharusnya untuk mahasiswa sendiri bisa diberikan gratis, apalagi mahasiwa FIK yang notabene sering menggunakan kolam renang.
Selain kolam renang, fasilitas yang bisa dimanfaatkan yaitu gym dan senam aerobic. Tak banyak mereka yang memanfaatkan gym khususnya para cowok, dan senam aerobic khususnya para cewek. Mengapa demikian? Karena memang gengsi mahasiswa terlalu tinggi. Contohnya gym, para cewek cewek yang di UNNES menganggap jika ia tak bisa melakukan kegiatan ngegym dan akan berujung malu jika diliat cowok cowok. Begitu juga senam aerobic, cowok cowok aku malu jika tidak bisa mengikuti gerakan senam. Padahal, fasilitias yang UNNES berikan tersebut bisa membuat badan tetap bugar dan sehat.
Tak cukup itu, di laboratorium banyak peralatan olahraga yang bisa dimanfaatkan mahasiswa. Hanya bermodal Kartu Tanda Mahasiswa, semua mahasiswa bisa meminjam alat apapun yang ada di laboratorium. Hanya saja kita harus konsekuen dengan kehilangan alat yang kita pinjam. Apalagi alat-alat olahraga yang kita pinjam tersebut tidak murah lagi.
Fasilitas sangat lengkap sekali. Seharusnya tidak perlu ada lagi yang dikhawatirkan jika kita tidak bisa melakukan mata kuliah praktek seperti renang, senam aerobic, badminton, dan masih banyak lagi. Apalagi yang kita keluhkan?
Sekilas memang sepele, tapi jika di pikir kembali kampus kita sudah memberikan kita fasilitas sedemikian rupa tetapi mengapa mahasiswanya tidak mau memanfaatkannya. Apa mahasiswanya tidak mau berkembang?










Calon Mahasiswa Harus Tau Sport Jurnalism

Mata kuliah sport jurnalism merupakan wadah bagi mahasiswa UNNES untuk mengenal dasar-dasar jurnalistik olahraga dan cara mempublikasikan tulisan di media massa, meliputi pengertian, sejarah jurnalistik dan pemahaman analisis informasi olahraga di berbagai media massa, serta keterampilan publikasi media massa seperti identifikasi bahasa jurnalistik atau teknik menulis berita. Meskipun pada khususnya jurnalistik ditujukan untuk mahasiswa dari program studi ilmu komunikasi dan sejenisnya, tetapi ketertarikan mahasiswa di luar program studi tersebut terhadap jurnalistik olahraga tentu juga bisa diakomodir di perkuliahan ini. Misalnya mahasiswa PJKR.
Pada mata kuliah ini, kita bisa mengembangkan kemampuan kita untuk menulis berita. Dari mulai teknik menulis judul, penulisan kalimat, dan penulisan kata yang benar. Dengan cara menulis berita setiap hari, kita menjadi tahu menulis berita yang baik dan benar.
Berita yang diajarkan bukan hanya sekedar berita yanh sering di terbitkan di koran atau surat kabar lainnya, namun seperti opini yang menjurus ke kritik dan saran atau sejenis artikel, lalu featurenews yang menceritakan seseorang atau menceritakan perjalanan dengan menggunan gaya bahasa kita sendiri, dan straightnews yang berita nya hanya singkat namun informasi yang di muat sangat penting.
Dengan adanya mata kuliah ini, kita berharap sebagai calon pendidik kita juga bisa merangkap dengan menjadi seorang jurnalistik.



















Stadion Kridanggo Dipenuhi Calon Wasit Sepakbola


Sabtu (5/5/2018), puluhan calon wasit sepakbola sedang melakukan pelatihan di stadion kridanggo Salatiga. Dengan bersenjata peluit dan bendera mereka tampak bersemangat sekali. Tampak terlihat hanya ada 2 orang perempuan yang mengikuti pelatihan wasit sepakbola tersebut.
Pelatihan ini akan dilaksanakan mulai tanggal 5 Mei-8 Mei 2018. Dari salah satu calon wasit, menyatakan "tujuan saya mengikuti pelatihan wasit sepakbola ini untuk menggali potensi saya dalam dunia persepakbolaan tetapi beralih menjadi wasit bukan menjadi pemain lagi. Setelah pelatihan ini selesai saya berharap bisa memimpin permainan dengan adil dan bijaksana."
Pelatihan ini dipimpin dan dibina oleh bapak Suprihatin, selaku wasit C2. Ia berharap pelatihan wasit sepakbola C3 ini kedepannya bisa berjalan dengan lancar sampai selesai.
























Stadion Kridanggo Dipenuhi Calon Wasit Sepakbola


Sabtu (5/5/2018), puluhan calon wasit sepakbola sedang melakukan pelatihan wasit sepakbola c3 di stadion kridanggo Salatiga. Mereka disediakan penginapan di LP3K Sinode Salatiga. Dengan bersenjatakan bendera dan peluit semuanya sangat antusias sekali.
Tampak terlihat hanya 2 orang perempuan yang mengikuti pelatihan tersebut. Kebanyakan laki-laki yang mengikuti pelatihan ini. Jumlah orang yang mengikuti pelatihan wasit sepakbola c3 ini berjumlah 67 orang.
Setiap pagi semua calon wasit melakukan tes jasmani di Stadion Kridanggo Salatiga. Selanjutnya mereka di beri waktu untuk istirahat, solat dan makan, dilanjutkan dengan materi di ruang kelas. Sore harinya mereka melakukan praktek menjadi wasit dengan bergantian menjadi pemain dan ada yang menjadi wasit.
Pelatihan ini akan dilaksanakan mulai tanggal 5 Mei-8 Mei 2018. Dari salah satu calon wasit, Angguh Satria menyatakan "tujuan saya mengikuti pelatihan wasit sepakbola ini untuk menggali potensi saya dalam dunia persepakbolaan tetapi beralih menjadi wasit bukan menjadi pemain lagi. Setelah pelatihan ini selesai saya berharap bisa memimpin permainan dengan adil dan bijaksana."
Pelatihan ini dipimpin dan dibina oleh bapak Suprihatin, selaku wasit C2. Ia berharap pelatihan wasit sepakbola C3 ini kedepannya bisa berjalan dengan lancar sampai selesai.






JAGO BULUTANGKIS, MERANGKAP NUTRISIONIST

Menjadi seorang pebulutangkis bukanlah hal yang mudah bagi Fitri Rachma. Gadis kelahiran Rembang ini mengenal olahraga tepokbulu sejak duduk dibangku SD kelas 2,namun ia memulai latihan rutin sejak kelas 3 SD. Setiap hari ia rajin untukberlatih, baik pagi, siang, maupun sore.
Putri bungsu dari bapak Bambang Pulung dan ibu Sunarti ini berniat untuk masuk ke club besar seperti Jaya Raya Jakarta, Ragunan Sport Club, dan Djarum Badminton Club. Awal ia menitih karier sebagai pebulutangkis sangatlah sulit. Setiap pagi ia harus menjalankan program dari sang pelatih di Rembang.
Ia mengenal bulutangkis dari bapak dan ibunya yang hobi bermain bulutangkis. Lalu ia dikenalkan oleh teman orangtuanya yang bernama Pak Teja. Disana ia berlatih dengan 3 orang yang sama-sama ingin menggapai cita-cita mereka. Baginya sekolah adalah nomor 2, karena ia ingin cita-citanya tercapai untuk menjadi pemain profesional.
Sebelum matahari terbit dari ufuk timur, ia harus melaksanakan program latihan fisik yang sudah dibuat oleh pelatihnya. Berkeliling lapangan 10x merupakan sarapan pagi baginya. Setelah itu ia melatih kekuatan kakinya dengan melakukan skiping sebanyak 500x. Selesai melakukan latihan fisik, ia bergegas mempersiapkan dirinya untuk bersekolah. Di sekolah ia sudah sangat lelah, namun ia jalani dengan nikmat agar tidak terasa lelahnya.
Kegiatan masih berlannjut. Ia harus bersiap latihan lagi di Gedung PGRI Rembang. Pemanasan yang ia lakukan adalah shadow, cock demi cock ia ambil dan ia taruh dengan mulus di lapangan. Drilling dan stroke juga merupakan makanan pokok Fitri saat latihan. Jika sudah selesai melakukan latihan tak lupa  ia pendinginan agar tidak ada otot yang tertarik.
Fitri beristirahat sejenak melepas lelah. Malam hari waktunya Fitri untuk belajar dan mengerjakan PR. Hari demi hari ia lewati dengan latihan gigih dan bersekolah. Dan hari demi hari kemajuan semakin terlihat. Fitri mulai mengikuti POPDA tingkat SD. Tahun demi tahun ia lewati dan ia selalu meraih juara 1 dan maju ke tingkat provinsi. Bahkan ia juga sering mengikuti event di luar kota.
Orang tua Fitri berfikir jika Fitri bisa lebih berkembang permainannya dengan masuk club besar. Kebetulan Fitri ditawari oleh pelatih Pembibitan Djarum di Kudus untuk berlatih disana dengan gratis tanpa biaya sepeserpun. Fitripun mengiyakan tawaran itu dan orang tuanya setuju. Namun ada kendala dengan pendidikannya. Ia masih terlalu kecil untuk tinggal sendiri di luar kota tanpa orang tua.
Setelah semua dipikirkan, akhirnya ada jalan keluarnya. Ia tetap berlatih di Pembibitan Djarum dan tetap bersekolah di Rembang. Setiap pulang sekolah ia harus berangkat ke Kudus diantar oleh ayahnya. Terkadang ia merasa kelelahan sehingga ia absen tidak mengikuti latihan. Kelelahan yang ia rasakan karena jauhnya perjalanan dari rumahnya ke Kudus.
Pembibitan Djarum merupakan wadah untuk atlet-atlet bulutangkis untuk bisa masuk ke Djarum Badminton Club. Karena pelatih disana juga termasuk pelatih Djarum Badminton Club dan merupakan legenda atlet bulutangkis di kancah nasional maupun internasional, seperti Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Maria Kristin dan masih banyak lagi.Atlet disana berasal dari beberapa daerah.
Empat tahun ia pulang pergi Rembang-Kudus demi meraih cita-citanya. Tawaran masuk club besar semakin banyak. Dirasa orang tuanya, Fitri sudah bisa mandiri. Fitri pindah ke SMP 116 Ragunan Jakarta saat ia lulus SD. Di SMP 116 Ragunan tidak hanya atlet bulutangkis saja, banyak atlet . Saat ia rindu dengan keluarganya sesekali ia bercengkerama lewat telfon. Kesempatan ia pulang ke rumah hanya sat lebaran tiba.
“Lambat laun saya bisa beradaptasi di Ragunan. Ya meski tidak semua saya kenal. Tetapi saya masih canggung jika saya ingin melakukan apa-apa, karena banyak senior disana. Rasanya saya harus menghormati mereka yang sudah senior. Tetapi sebenarnya senior disana baik dan ramah-ramah”, ujar Fitri.
Sekolah di sana hanya pada siang hari. Pagi hari merupakan waktu para atlet untuk latihan. Maka tak heran jika SMP dan SMA 116 Ragunan Jakarta dijuluki Sekolah Khusus Olahragawan. Malam hari jika mereka tidak belajar, mereka harus tidur dan mengumpulkan hp mereka kepada pelatih. Agar mereka mempunyai istirahat yang cukup.
Terkadang Fitri merasa lelah dan ingin pulang segera bertemu dengan keluarganya. Namun, hal itu ia kesampingkan terlebih dahulu demi cita-citanya yang belum tercapai. Sesekali ia bermain dengan teman-temannya disana saat ada waktu senggang untuk refreshing seperti jalan-jalan ke mall, makan bareng bersama teman-temannya di luar asrama.
Kelulusan SMP telah tiba, Fitri Rachma berencana untuk melanjutkan sekolah di SMA 116 Ragunan lagi (Sekolah Khusus Olahragawan). Ia tak mau menyia-nyiakan waktu yang kosong. Jika pada siang hari teman-temannya istirahat, Fitri melakukan latihan mandiri agar tidak tertinggal oleh teman yang lain. Tekad Fitri semakin kuat untuk menjadi pemain profesional. Event di luar kota ia raih dengan mudah dan selalu mendapatkan medali.
Enam tahun ia lewati di Ragunan, ia berharap cita-citanya untuk menjadi pemain profesional sudah lebih dekat dan juga lebih banyak bertemu dengan mantan-mantan dan pemain-pemain punggawa merah putih, intinya motivasi dalam berprestasi jadi lebih kuat daripada di daerah yang dengan tidak menutup kemungkinan banyak tantangan yang menghadang. Namun sayang, ia tak mungkin melanjutkan studinya di Ragunan karena banyak rintangan yang menghadang.
Fitri sempat berhenti sejenak untuk memikirkan mau kemana ia setelah lulus dari Ragunan. Setelah sekian lama ia menggeluti dunia bulutangkis dirasa ia ingin melanjutkan pendidikannya yang dulu sempat di nomer duakan.
“Setelah saya lulus dari SMA 116 Ragunan Jakarta, saya berencana untuk melanjutkan pendidikan sarjana jurusan fisioterapi. Harapannya setelah saya gagal menjadi atlet setidaknya saya masih bisa berkecimpung di dunia bulutangkis lewat jalur menjadi fisioterapis atlet bulutangkis utamanya”, ujar Fitri.
Namun, orang tua nya terutama ibunya lebih mengarahkan Fitri ke Ilmu Gizi, dan ia sadar sebagai anak ia sudah terlalu sering membangkang dan akhirnya ia mengambil jurusan ilmu gizi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ia sudah memantapkan hatinya untuk mengambil jurusan ilmu gizi.
“Awal saya mau ambil jurusan ilmu gizi masih menjadi pertanyaan, nantinya saya mau jadi apa. Saat saya daftar saya hanya tau nanti setelah lulus kerjanya banyak di rumah sakit atau hal-hal yang berbau medis dan kebutulan saya juga berminat di dunia medis akhirnya saya menjalani studinya dengan enjoy”,lanjut Fitri saat diwawancarai.
 Karena ia hobi kuliner, ibunya mengarahkan ia ke ilmu gizi agar sebagai wanita tau dunia masak permasakan yang erat kaitannya dengan dunia kesehatan juga. Ilmu gizi juga tidak seperti fisioterapi yang kontak langsung dengan pasien(memegang pasien). Ilmu gizi yang ia tangkap kebanyakan ada pada konsultasi, tidak terlalu banyak kontak fisik dengan pasien.
Saat sudah memasuki perkuliahan ia sudah tau jika gizi ada pembagiannya, lebih tepatnya saat akan proposal penelitian berarti kira-kira sudah memasuki setengah semester yang bisa disebut juga semester tua. Jadi gizi ada beberapa fokus, yaitu gizi klinik, gizi masyarakat, dan teknologi pangan.
Gizi masyarakat dibagai lagi menjadi beberapa bagian yaitu gizi anak, sekolah, bumil, busui, remaja, lansia, dan gizi olahraga atau gizi atlet. Lalu diambilah konsentrasi gizi atlet. Kebetulan mata kuliah gizi tentang gizi atlet (dibagi menjadi dua yaitu gizi olahraga dan gizi kebugaran), ia menjadi penanggung jawab mata kuliah tersebut dan secara tidak langsung ia sering berhubungan dengan dosen.
Dari situ ia bercerita kepada dosennya kenapa ia memilih gizi olahraga karena mengantisipasi jika misalnya ada mahasiswa yang mau ambil penelitian tentang gizi atlet. Dengan cepat ia langsung menerima tawaran dosennya untuk mengambil gizi atlet, dan dosen tersebut juga menjadi dosen pembibing Fitri.
Dan setelah perjalanan yang panjang, banyak rintangan yang ia hadapi saat proses kuliah, ia dipermudah dan dilancarkan sampai selesai. Harapannya setelah ia lulus, ia ingin berkiprah di dunia pergizian atlet terutama atlet bulutangkis Indonesia. Ia ingin sekali membantu mereka bisa berprestasi lebih baik dan tingi lagi, karena ia mengalami sendiri bagaimana dulu saat ia masih menjadi seorang atlet, ia merasa gizinya tergolong tidak diperhatikan dengan arti kebutuhan gizi per atlet belum sepenuhnya tercukupi.
Berawal dari sinilah ia ingin menjadi nutritionist atlet bulutangkis kebanggan Indonesia. Dan sampai sekarang ia masih sering bermain bulutangkis namun hanya sekedar hobi dan menghilangkan penat, dan lebih hebatnya lagi ia mendirikan sebuah gedung bulutangkis di sekitaran Rembang untuk memasyarakatkan olahraga bulutangkis, khususnya di Kabupaten Rembang

Komentar