Straight News
Srikandi Tanah Air Harumkan Nama Bangsa
Semarang- Tim
Uber Indonesia akhirnya bisa unggul sementara atas Malaysia dengan skor 2-1,
pada babak penyisihan grup D. Setelah Greysia Polii/Apriyani Rahayu menyumbang
poin pertama, kini giliran Gregoria Mariska yang menjegal langkah Goh Jin Wei
dan merebut poin kedua. Gregoria menang dari Goh dua gim langsung dengan skor
22-20 dan 21-16. Pertandingan ini merupakan yang kelima kalinya buat Gregoria
dan Goh. Dari rekor pertemuannya, Gregoria tercatat kalah 1-3 dari tunggal
putri Malaysia tersebut. “Dari head to head saya kalah dari dia, jadi tadi saya
main lepas aja, nggak mikirin hasilnya gimana.
“Soalnya kan
pertandingan beregu, apapun bisa terjadi. Siapa tahu dia mendapat tekanan yang
lebih. Tapi dari di lapangan tadi saya lebih percaya diri dan Puji Tuhan
permainan saya keluar,” kata Gregoria. Di gim pertama Gregoria harus tertinggal
5-14 dan 11-16. Namun setelah itu, Gregoria justru melesat, balik memimpin dengan
17-16. Setelah saling susul di poin-poin kritis, Gregoria akhirnya menang 22-20.
Indonesia sementara unggul 3-1 atas tim Piala Uber Malaysia. Saat ini di partai
kelima, tunggal puteri Ruselli Hartawan tengah bertanding menghadapi
Selvaduray Kisona.
Berikut hasil
lengkap pertandingan tim Uber Indonesia dengan Malaysia: (Tunggal Putri 1)
Fitriani vs Soniia Cheah: 21-10, 17-21, 14-21 (Ganda Putri 1) Greysia
Polii/Apriyani Rahayu vs Yea Ching Goh/Lee Meng Yean: 21-13, 21-14 (Tunggal
Putri 2) Gregoria Mariska Tunjung vs Goh Jin Wei: 22-20, 21-16 (Ganda Putri 2)
Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta vs Chow Mei Kuan/Vivian Hoo
24-22, 20-22, 21-12 (Tunggal Putri 3) Ruselli Hartawan vs
Selvaduray Kisona
Reportase
Gol Tidak Fair Play di bulan
Ramadhan
Semarang- Insiden gol
'Tangan Tuhan' jadi noda dalam kemenangan Persela Lamongan atas Persija Jakarta
di Stadion Surajaya, Lamongan, Minggu 20 Mei 2018. Kinerja wasit Annas
Apriliandi pun jadi sorotan. Banyak yang mengecam performa Annas saat memimpin
laga tersebut. Terutama, dari kubu Persija.
Pelatih Persija,
Stefano Cugurra Rodrigues, dan kapten Ismed Sofyan mengecam kinerja buruk
Annas. Mereka merasa Annas sudah mencederai sportivitas karena sebenarnya hakim
garis sudah bersikap dengan benar. Ya, hakim garis Jujuk Suharso sempat
mengangkat bendera tanda terjadi pelanggaran ketika Diego Assis cetak gol.
Namun, tanda
dari Jujuk tak digubris oleh Annas. Dia tetap mengesahkan gol tersebut. Performa
Annas pun disoroti oleh Komite Wasit PSSI. Kasus Annas, disebut anggota Komite
Wasit PSSI, Nasrul Koto, akan ditindaklanjuti. Sudah ada hukuman yang disiapkan
Komite Wasit untuk Annas.
"Pertama,
tak terlepas dari tertutupnya pandangan. Begitu cepat gol terjadi. Apakah
sundulan benar-benar murni pakai kepala atau tangan. Kami lihat lagi dan
bicarakan Kamis nanti," kata Nasrul kepada Reporter.
"Hingga kini belum ada laporan. Jika terbukti bersalah,
hukumannya adalah skorsing dalam memimpin pertandingan," lanjutnya.
Feature
Prestasi
Untuk Andhika
Semarang- Ketika semua orang
sibuk dengan aktivitasnya, di saat itu lahir seorang bayi laki-laki, tepat
20 tahun yang lalu. Dika, begitu sebutan akrab sekaligus nama lengkap remaja
itu lahir di Desa Sukaraja, Kec. Karang Reja, Kab. Purbalingga tepat tanggal 28
Juli 1998. Hadir ke dunia sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara. Buah hati
pasangan Sarkowi dan Ely Yana ini berhasil merajut berbagai prestasi dan
menjadi kebanggaan orang tua manapun.
Di saat penulis mewawancarai
Dika di kampus kesayangannya Universitas Negeri Surakarta, Mahasiswa Ilmu Keolahragaan
ini sangat bersemangat mengupas tentang peristiwa dan pengalaman hidupnya.
Sejak kecil Dika gemar dengan aktivitas olahraga, terutama bola voli. “Saya
senang sekali kalau sore hari bermain bola voli dengan teman sebaya, semangat
menjadi terpacu dengan berolahraga”, Ujar remaja itu dengan semangat. Baginya,
memulai sesuatu dengan hobby membuat aktivitas yang dilakukan lebih
ringan, sehingga pikiran tidak terbebani.
Di waktu SD, Dika selalu mendapat
peringkat 10 besar di kelas. Begitupun, saat berganti seragam menjadi putih
biru. Orang tua Dika lebih memilih putranya disekolahkan di MTsN Purwokerto,
karena berada di luar daerah akan membuat pendidikan lebih maju. Mulai saat
itu, Dika belajar mandiri. Berada jauh dari orang tua awalnya membuat remaja
ini risih, takut, dan khawatir. Tinggal di kost merupakan
tantangan yang terberat, realita harus ditempuh, tidak ada kata tidak bisa.
Dika menjadi teladan bagi teman-temannya sehingga jabatan sebagai Ketua OSIS
MTsN Purwokerto, berhasil di raihnya. “Organisasi membuat kita lebih menghargai
kebersamaan, Saya juga harus berani menjadi khalifah untuk
diri Saya dan teman-teman sekolah”, Ujar Dika.
Belajar organisasi masih
dilanjutkan remaja itu, tanpa perjuangan yang lelah Dika kembali menjabat
sebagai Ketua OSIS SMK N 1 Purwokerto. Remaja ini juga dipercaya sebagai
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka perwakilan sekolahnya. Prestasi demi prestasi
diraihnya untuk mengharumkan nama keluarga dan nama sekolah. Dika aktif dan
berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS)
Kota Purwokerto, Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS) Provinsi Jawa Tengah, POPDA
Bola Voli tingkat Provinsi, KEJURDA Bola Voli tingkat Provinsi, PORKOT Bola
Voli tingkat Kota, dan PORSENI Bola Voli tingkat Kota.
Sungguh prestasi yang
mengagumkan. Semua orang bisa meraihnya jika diawali dengan kerja keras dan
latihan yang maksimal. Disaat masuk perguruan tinggi negeri ini, Dika juga
lulus melalui jalur prestasi, yaitu Bola Voli. Ternyata kegemaran membawa peluang
yang besar mencapai kesuksesan. Cita-cita Dika juga tidak muluk-muluk, kelak
remaja ini berniat menjadi Atlit Bola Voli untuk membanggakan keluarganya,
semua prestasi di raih untuk mencapai prestise. Sebuah prestise dapat membuat
orang menjadi berwibawa dan mampu di bidangnya. “Saya selalu ingat dengan motto
hidup yaitu: Hidup itu penuh resiko, mengalah itu tidak akan hidup”. Tambah Dika
dengan wibawanya.
Semua orang berhak berprestasi,
semua orang ingin memiliki prestise agar disegani dan dihormati dalam
masyarakat. Kepada penulis Dika memberikan pesan kepada semua orang yaitu
“Jangan takut mengambil keputusan, karena dibalik kegagalan terdapat kesuksesan
yang tertunda. Jangan pernah berpikir apa yang diberikan untukmuu, namun
berpikirlah apa yang bisa kamu berikan untuk orang lain.”
Hari ini penulis menemukan orang
yang tidak pernah lelah dalam mencapai prestasi, Dika juga sempat mengatakan
bahwa Indeks Prestasinya saat ini 3,27.Menurut Dika, menjadi mahasiswa yang
berprestasi membutuhkan usaha, latihan keyakinan dan do’a.
OPINI
Sport Jurnalisme Sebagai Mata Kuliah Tetap atau Pilihan ?
Semarang- Sport
Jurnalism adalah salah satu mata kuliah yang ada di Jurusan Pendidikan Jasmani
Kesehatan Rekreasi (PJKR) Fakultas Ilmu Keolahragaan yang harus dilalui oleh
mahasiswa PJKR Universitas Negeri Semarang atau biasa di singkat UNNES di
semester 6. Mata kuliah yang banyak tugas untuk mencari sebuah berita, bukan
hanya mencari tetapi mahasiswa disana dituntut untuk membuat berita teraktual
dan terbaru. Mata Kuliah ini masih belum di sebut sebagai mata kuliah tetap
karena masih di sandingkan dengan mata kuliah lain seperti Event Organizer dan
Sport Entrepeneurship.
Mata
kuliah yang dipentingkan oleh jurusan PJKR UNNES ini karena ada opsi lain dari
mata kuliah Sport Jurnalism ketika mahasiswa sudah keluar dari PJKR UNNES
mahasiswa tersebut mempunyai skill lain atau kemampuan yang lain selain menjadi
pendidik yaitu sebagai pencari sebuah berita atau sebagai reporter. Semua mata
kuliah yang di ajarkan di semester 6 ini bisa saja di gunakan di tahun depan,
bisa saja hanya diambil satu ataupun dua mata kuliah saja, bahkan isu terbaru
adalah akan dihilangkanya mata kuliah ini di tahun mendatang. Semua itu masih
simpang siur tergantung kebijakan dari Ketua Jurusan PJKR Universitas Negeri
Semarang.
Titik
masalahnya disini adalah banyak mata
kuliah yang belum ditetapkan/diresmikan sebagai mata kuliah tetap di Fakultas
Ilmu Keolahragaan ini. Contohnya seperti Sport Jurnalism,Event Organisazer dan
Sport Entrepeneurship.
Menurut
saya, Mata kuliah ini penting bagi mahasiswa PJKR karena sebagai penambah ilmu
dimasa mendatang ketika sudah lulus menjadi Sarjana. Menurut saya lagi, Mata
kuliah ini juga mengajarkan banyak wawasan dari dunia olahraga, mengolah kata
dengan yang baik, membuat kata-kata yang tersusun dengan rapid an cara
bagaimana mencari berita yang sesuai fakta yang ada di lapangan maupun opini
yang saya buat sendiri. Tidak dipungkiri ketika nanti lulus dari UNNES tidak
langsung dijaminkan kerja sebagai seorang pendidik, namun mempunyai backup skill lain yaitu sebagai Pencari
berita, Sebagai Reporter dan lain sebagainya.
Sangat
disayangkan jika mata kuliah ini dihilangkan, karena masih banyak mahasiswa
yang belum merasakan bagaimana mencaridan membuat sebuah berita. Harapan
kedepanya Mata kuliah ini tetap diadakan dan diberikan kepada mahasiswa karena
jika ketika lulus menjadi lulusan guru olahraga dan ingin mencari pekerjaan
sampingan bisa menjadi sebuah Reporter. Saya kira tidak masalah jika mata
kuliah ini diadakan karena sangat bermanfaat bagi mahasiswa tepatnya calon
penerus bangsa yang tidak berkarier didunia pendidikan dapat menjadi sebuah
wiraswasta. Karena sesuatu hal mempunya nilai positif dan tujuan utama.




Komentar
Posting Komentar