Pagi itu tidak seperti
biasanya, pagi yang selalu sibuk dengan rutinitas kerja yang sangat
membosankan. Pagi itu aku awali memulai perjalanan untuk menikmati keindahan
alam bersama kesendirian, berdialog dengan sunyinya malam yang, bertabur
bintang, mendengarkan suara air hujan yang jatuh membasahi setiap jejak langkah
kehidupan. Rasanya indah dalam bayangku.
Setelah shalat subuh
dan sarapan pagi, aku meriksa kembali barang bawaan yang telah disiapkan di
malam hari sebelumnya. setelah itu, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku,
untuk pergi ke sebuah desa di sebelah timur kota Purbalingga dirumah nenek saya.
Untuk sampai ke Kabupaten
Purbalingga, aku menggunakan alat transportasi jenis bis antar kota.
Sesampainya di terminal Tirtonadi solo yang, sebelumnya diantarkan oleh seorang
bapak dari kediamanku. sampai terminal, Segeralah aku menaiki bus tujuanku.
dengan membayar sekitar Rp 65.000,- aku duduk di barisan paling belakang,
karena bus sudah mulai sesak dan penuh.
Perjalanan banyak hal
yang biasa saja, sehingga aku banyak tidur selama di perjalanan. Sekitar pukul
14.00 WIB, aku sampai di kota Sukabumi, memang perjalan itu terasa sangat
melelahkan karena, memakan waktu sekitar 6 jam di dalam bus. Sehingga, kepala ini
terasa pusing dan agak mual.
“Mas mau ke mana?”
ucap tukang ojek separuh baya itu, “ini pak, saya mau ke desa Karangreja,
apakah bapak tahu? kalau tahu tolong antarkan saya”. Dengan tarif yang agak
murah, tukang ojek tersebut mengamini keinginaku untuk sampai di desa Karangreja.
Perjalanan tidak membosankan, bapak yang sering disebut “Bang Maman”,
memberitahukan akan keindahan desa yang berada di kecamatan tersebut, pak maman
menceritakan tentangapa saja termasuk adat dan istiadat disana.
45 menit pun berlalu.
Sampailah saya, di desa saya dilahirkan, Udara dingin menyambut kedatanganku.
sampai-sampai kemeja flanel tebal pun tidak bisa menahanya. “Terima kasih pak,
telah mengantarkan saya ke sini”. sambil menyodorkan uang atas tarif yang pak Maman sebutkan tadi. “sami-sami mas, kalau mau ke desa tersebut, mas harus
berjalan melewati jalan itu”. Sambil telunjuknya mengarahkan kepada jalan
setapak yang, tepat berada selokan kecil yang airnya teramat sangat jernih.
“iya pak, terima kasih”.
Segeralah kaki ini
menyusuri setapak demi setapak jalan tanah yang di tunjukan pak maman tadi.
Sungguh indah perjalanan ini karena, disuguhi pemandangan alam yang menyejukan
mata. Terlihat menjulang tinggi bukit, sungai mengalir seakan berbisik “inilah
ciptaan keindahan tuhan yang harus kau syukuri”. Trek jalan terjal yang di sisi
pinggirnya adalah jurang, tepat di dasar jurangnya adalah sungai, jadi aku
harus hati-hati melangkahkan kaki yang sudah mulai lelah ini. Aku ikuti terus
petunjuk arah jalan yang di tempelkan pada pohon damar berusia ratusan tahun
itu.
Selang waktu beberapa
lama akhirnya aku sampai di sebuah desa nenek saya. Rumah-rumah sederhana
sangatlah indah karena, berpadu dengan kandang ternak dan kolam ikan milik
warga. Kedatanganku disambut ramah oleh mereka. Senyum dan sapa diberikan
ketika aku berpapasan dengan warga, meski aku belum mengenal mereka. Kaki ini
dihentikan langkahnya setelah, melihat hamparan luas rumput hijau dan pohon
pinus yang berderet memanjang. Nampaknya tempat itu cocok membangun kemah
untuk, tempat tinggal sementara.
Selang beberapa waktu
saya akhirnya bertemu dengan Ibu saya yang sekarang tinggal di rumah tersebut.
Ibu saya lalu memeluk saya dengan rasa yang begitu kangen dan dapat saya
rasakan karena memang sudah tidak bertemu begitu lama semenjak sidang pertama
atas perceraian kedua orang tua saya. Keesokan harinya saya
langsung ke air wisata yang dekat dengan tersebut. 30 menit berlalu, sampailah
di air terjun yang ketinggiannya kira-kira 25 meter itu. Dengan membayar karcis
masuk sebesar Rp 15.000,- aku puas sekali dengan panorama alam indah, ciptaan
sang ilahi. pengunjung tidak terlalu ramai, saking sedikitnya bisa dihitung
dengan hitungan jari saja. “Brrrr” setelah air menyentuh kaki ini, rasanya
dingin seperti air es. Aku tarik nafas dalam-dalam, dan hembuskan perlahan,
“hmmmmm”, ini lah ketenangan yang selama ini aku impikan, dekat dengan alam,
menikmati anugrah yang di berikan sang pencipta, tidak hentinya mulut ini
bersyukur kepadanya.
Melihat pengunjung
lain dengan senangnya berenang di tepian air terjun, Rasanya aku ingin
melompat, berlari dan berteriak “aku adalahhh burungg yang ingin terbang bebas
di langit sore” sembari tubuh ini menghempas air terjun yang jernih dan dingin
itu. Akan tetapi aku tidak membawa baju pengganti karena, aku lupa membawanya
di tenda tadi. Jadi aku hanya memasukan kaki ini ke dalam air yang mengalir
dari air terjun ke sungai yang tidak dalam tapi lumayan deras. waktu tidak
terasa sudah hampir gelap. aku putuskan untuk kembali ke perkemahan untuk
istirahat. Sebelum pulang aku membeli kayu bakar yang ada di warung, sekitar
air terjun.
Di perjalanan kembali
ke rumah, aku hanya ditemani langit jingga, dan suara burung yang ingin kembali
ke sarangnya. Terasa puitis sekali ketika keadaan itu, diimbangi dengan,
lantunan lagu “Ibu pertiwi” dari suaraku yang agak fals itu. Terlihat dari
kejauhan ternyata di sebelah tendaku sudah ada yang mendirikan tenda baru.
Ternyata tenda itu milik seorang mahasiswi seumuranku, yang bernama Rinjani,
namun dia tidak sendirian, dia ditemani temannya yang bernama Sarah dan Aldo.
“Sendirian aja mas?”, tutur wanita manis berkerudung hijau tua itu, dia adalah
Rinjani. “iya nih, karena kawan yang lainnya ada kesibukan satu dua hal mbak”,
jawab singkatku.
Waktu shalat maghrib
pun datang, kami pun bersiap-siap untuk menunaikan shalat maghrib. setelah
mengambil air wudhu di pancuran yang tidak jauh keberadaanya dari tenda. kami
menunaikan shalat maghrib berjamaah di alam terbuka ditemani dengan, matahari
yang mulai menghilang yang menyisakan keheningan dan suara jangkrik yang merdu,
hal itu menambah khusunya shalat kami. Selang beberapa hari akhirnya saya
pulang lagi ke Sragen dengan menaiki bus dari terminal Purbalingga ke Terminal
Solo lalu dijemput bapak saya di Terminal solo. Lalu keesokan harinya saya
langsung berangkat ke Semarang lagi untuk melanjutkan Study saya di UNNES
Semarang.
Komentar
Posting Komentar